8.4.13

Selamatkanlah Kaum Wanita




Oleh:  sep Haris H.

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِي اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. أَمَّا بَعْدُ؛
Jama’ah shalat Jum’at yang berbahagia!
Kaum muslimin para hamba Allah yang dirahmati Allah!
Pada masa modern ini, pembicaraan tentang wanita adalah termasuk pembicaraan yang telah menyita banyak waktu semua orang, dari kalangan intelektual maupun dari kalangan awam. Betapa tidak, kaum wanita dengan kelemahlembutannya dapat melakukan hal-hal spektakuler yang dapat mengguncangkan dunia. Dengan kelemahlembutannya itu ia dapat melahirkan tokoh-tokoh besar yang dapat membangun dunia. Namun dengan kelemah-lembutannya pulalah ia dapat menjadi penghancur dunia yang paling potensial.

Untuk mengetahui bagaimana semestinya posisi kaum wanita yang tepat maka kita perlu mengetahui bagaimana posisi kaum wanita di kalangan generasi terdahulu sebelum datangnya Islam.
Siapapun yang mencoba mempelajari kondisi kaum wanita sebelum Islam maka ia temukan hanyalah sekumpulan fakta yang tidak menggembirakan. Ia akan terheran-heran menyaksikan kondisi kaum wanita yang sangat berbeda antara suatu bangsa dengan bangsa yang lain, bahkan antara satu suku dengan suku yang lain. Di suatu bangsa ia melihat kaum wanita menjadi penguasa tertinggi, sementara pada bangsa yang lain mereka manjadi makhluq yang terhina dan dianggap aib bahkan dikubur hidup-hidup.
Allah berfirman tentang ratu Saba’:
“Sesungguhnya aku (burung hud-hud) mendapati seorang ratu yang menguasai mereka dan ia dianugrahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar” (An-Naml: 23).

Sementara di belahan bumi lain, Allah menceritakan sisi yang berlawanan dari itu:
“Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah ia dibunuh.” (At-Takwir: 8-9).

Itulah kondisi kaum wanita di masa jahiliyah; ibarat barang yang terhina dalam keluarga dan masyarakat, diperbudak oleh kaum pria. Hari kelahirannya adalah hari di mana semua wajah menjadi kecewa, dan tidak lama kemudian ia akan dikubur hidup-hidup dalam kubangan tanah yang digali oleh ayahnya sendiri. Inilah akibat dari jauhnya akal masyarakat dari cahaya wahyu. Inilah gambaran umat yang dilahirkan oleh berhalaisme dan dididik oleh para tukang sihir dan peramal.
Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu berkata: “bila engkau ingin melihat bagaimana kejahilan bangsa Arab terdahulu maka bacalah firman Allah Ta’ala:
“Sungguh merugilah orang-orang yang membunuh anak-anak mereka karena kebodohan tanpa ilmu.” (Al-An’am: 140)

Fahamlah kita bagaimana kejahiliyahan menenggelamkan masyarakat Arab saat itu ke dalam pojok-pojok kegelapan peradaban, hingga akhirnya terbitlah fajar Islam lalu terdengarlah di penjuru dunia untuk pertama kalinya:
”Dan para laki-laki beriman dan wanita yang beriman itu adalah wali (penolong) antara sebagian mereka kepada sebagaian yang lain.” (At-Taubah: 17).
Lalu bergaunglah firmanNya:
“Dan para wanita itu mempunyai hak dan keseimbangan dengan kewajiban mereka secara ma’ruf.” (Al-Baqarah: 228).

Dengan demikian Islam telah meletakkan dasar dan pondasi yang begitu kokoh untuk membangun pribadi wanita yang baru berdasarkan wahyu dari Dzat yang telah menciptakannya.
Dan pemuliaan Islam terhadap wanita tidak cukup sampai di sini, Islam bahkan telah menjadikan ibu sebagai orang yang lebih dihormati daripada seorang ayah.

قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُوْلَ اللهِ مَنْ أَبُرُّ؟ قَالَ: أُمَّكَ، قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: أُمَّكَ، قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: أُمَّكَ، قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: أَبَاكَ. (رواه البخاري ومسلم).
Seorang pria bertanya: “Wahai Rasulullah! Kepada siapakah aku berbakti?” Beliau menjawab: ”Ibumu” Ia bertanya lagi: “lalu kepada siapa?” beliau menjawab: “Ibumu.” kemudian ia bertanya lagi: “lalu kepada siapa ? beliau menjawab: “Ibumu” kemudian ia bertanya lagi “lalu kepada siapa ?” barulah beliau berkata: “ayahmu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kaum muslimin yang berbahagia!
Islam telah meletakkan jalinan yang kuat dan kokoh untuk menjaga kaum wanita. Bila mereka berpegang padanya mereka akan selamat, sebaliknya bila mereka menyia-nyiakannya maka mereka akan sesat dan binasa. Jalinan itu adalah sifat “Al-Hasymah” (bersikap malu) dan “Al-Afaf” (menjaga kesucian) yang kemudian memberikan konsekwensi agar seorang wanita mengenakan hijab syar’i, tetap berdiam di rumah, dan menghindari percampurbauran dengan kaum pria; yang semuanya itu menjadikannya ibarat sebuah permata bernilai tinggi di kedalaman lautan yang tidak di jamah kecuali orang yang berhak untuk itu.

Islam memandang bahwa percampurbauran antara pria dan wanita (ikhthilath) sebagai sebuah bahaya yang sangat nyata, oleh karena itu Islam mencegahnya dan menggantinya dengan mensyariatkan pernikahan.
Hadirin yang berbahagia!
Ketahuilah bahwa musuh-musuh Islam telah mengetahui bagaimana nilai hijab syar’i dalam melindungi seorang muslimah, mereka juga faham perintah untuk “tinggal di rumah saja” memberikan pengaruh yang sangat besar dalam menjaga wanita muslimah, dalam menjaga kesucian dan kemuliaannya. Oleh karena itu, kita dapat melihat bagaimana mereka memerangi hijab muslimah tanpa ampun. Suatu waktu mereka menyebutnya sebagai sebuah kedzaliman dan kejahatan atas wanita., atau sebagai penghalang yang merintangi berkembangnya dunia ketiga, atau dikali lain mereka menyebutnya sebagai budaya Arab saja. Seiring dengan itu, mereka juga mendorong para wanita muslimah untuk keluar dari rumah-rumah yang telah melindungi mereka dengan alasan persamaan hak dan derajat antara pria dan wanita. Dan yang masih saja hangat sampai hari ini adalah sebuah ide sekuler yang berhasil ditanamkan oleh musuh-musuh Islam kedalam otak sebagian kaum muslimin; yaitu ide melakukan perombakan terhadap fiqh Islam yang katanya hanya berpihak pada kaum pria, sehingga lahirlah ide “Fiqh Perempuan”
Semua itu dilakukan oleh musuh-musuh Islam bukan karena mereka kasihan dan ingin menolong wanita muslimah atau karena cinta kepada kaum muslimin. Sekali-kali tidak, hal ini, karena kebencian yang terpendam dalam hati-hati mereka;
“Beginilah kalian, kalian mencintai mereka padahal mereka sama sekali tidak mencintai kalian.” (Ali-Imran:119)

Para hamba Allah yang saya cintai!.
Siapapun di dunia ini yang memiliki akal sehat akan dapat melihat permusuhan yang amat nyata dari kaum Yahudi dan Nashrani khususnya kepada umat Islam. Semuanya dapat melihat dengan jelas bagaimana mereka selalu menjadikan wanita muslimah sebagai sasaran mereka. Bukankah kaum Yahudi telah memancangkan permusuhannya terhadap hijab sejak mereka mengatur siasat untuk merobek hijab seorang muslimah dan menampakkan auratnya di pasar Bani Qainuqa’??!.Dan hingga kinipun, permusuhan itu tetap membara, sebab mereka mengetahui bahwa rusaknya kaum wanita pertanda rusaknya tatanan masyarakat.
Namun sangat disayangkan, entah berapa banyak dari kaum muslimin yang menyerahkan diri mereka kepada tipu-daya mereka. Entah berapa banyak dari kaum muslimin yang turut serta membantu mereka memerangi hijab syar’i ini. Mereka inilah para korban “brain washing” yang dilancarkan oleh kaum kafir dalam berbagai aspek kehidupan.

Kaum muslimin yang dirahmati Allah!.
Sesungguhnya istri-istri kita, saudari-saudari kita, dan putri-putri kita adalah bunga-bunga yang menghiasi taman kehidupan kita. Mereka adalah belahan hati kita semua. Namun hampir-hampir saja kita tidak lagi dapat merasakan keindahan bunga itu karena ada sebuah tiupan angin kencang yang sebentar lagi akan merenggutnya. Apakah anda sekalian mengetahui angin kencang apakah itu?.Ia adalah angin westernisasi yang mengajak mereka melepaskan hijabnya, yang mendorong mereka untuk bercampur baur dengan kaum pria dan membisiki mereka agar membuang rasa malu mereka untuk bercampur-baur dengan kaum. Angin kencang ini ditiupkan melalui lembaran-lembaran surat kabar dan majalah, melalui roman-roman percintaan, melalui siaran-siaran televisi dan radio atau media-media informasi lainnya .
Mereka telah mendorong kaum wanita mengubur sendiri dirinya hidup-hidup;bukan di dalam tanah, tetapi di dalam sifat ‘iffah mereka yang telah hilang, kedalam kehormatan mereka yang tercabik-cabik, dan kedalam kesucian mereka yang telah ternoda! lalu apakah gunanya hidup mereka setelah itu?
Mereka telah melakukan perbuatan yang lebih keji dari apa yang pernah terjadi di masa Jahiliyah dulu. Bagaimana anak-anak perempuan dikubur hidup-hidup dimasa itu akan mendapatkan Surga Allah, disebutkan dalam Musnad Imam Ahmad bahwa Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:
اَلْمَوْؤُوْدَةُ فِي الْجَنَّةِ.
“Anak-anak perempuan yang dikubur hidup-hidup itu di Surga.”

Namun di zaman ini, para wanita itulah yang mengubur dirinya sendiri hingga hilang rasa malu. Dan balasan untuk mereka pun begitu menakutkan, Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda tentang wanita yang seperti ini:

وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيْلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُؤُوْسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيْحَهَا.
“Dan wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang yang melenggak lenggok, kepala-kepala mereka seperti punuk-punuk onta, mereka itu tidak akan masuk Surga dan tidak mendapatkan baunya.” (HR. Muslim).

Kaum muslimin para hamba Allah yang berbahagia!
Oleh karenanya, melalui mimbar Jum’at yang mulia ini kami menyerukan kepada para penanggung jawab kaum wanita, para bapak, para suami dan para saudara, renungkanlah
Melalui mimbar Jum’at ini pula, kami mengingatkan para pemudi Islam agar mereka tidak mendengarkan tipuan-tipuan musuh-musuh anda yang selalu menampakkan indahnya hidup bercampur baur dengan kaum pria atas nama kebebasan, kemajuan dan kemoderenan. Karena bagi mereka yang penting dari diri anda hanyalah kenikmatan dan kelezatan sesaat. Nasehat kami kepada Anda adalah bahwa kunci perbaikan itu ada di tangan Anda semua. Jika Anda ingin, Anda dapat memperbaiki diri sendiri. Dan kebaikan Anda juga berarti kebaikan bagi ummat ini.
“Dan tinggallah kalian (para wanita) di dalam rumah-rumah kalian, dan janganlah kalian berhias seperti berhiasnya kaum jahiliyah pertama, dan tegakkanlah shalat, tuanaikanlah zakat, dan taatilah Allah beserta RasulNya.” (Al-Ahzab: 33).
Akhirnya, semoga wasiat ini dapat bermanfa’at dalam proses perbaikan terhadap ummat yang kian terpuruk ini. Semoga bagi kita sekalian dianugrahkan taufiq dan inayah untuk membangun kekuatan dan kejayaan ummat seperti sedia kala . Amin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ.
Khutbah Kedua
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا} وَقَالَ: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا}
ثُمَّ اعْلَمُوْا فَإِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَى رَسُوْلِهِ فَقَالَ: {إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا}.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

sisindiran



ka Bandung kuring ka bandung
sukajadi keur marema
kaduhung kuring kaduhung
heunte jadi ka manehna

kamari ulin ka samarinda
trus nyimpang ka bima
kuring mah da urang sunda
nyebat ka indung teh emak

diluhur aya bandera

bandera gambar panda
naha kuring kudu era
pan ieu teh basa sunda


Jauh jauh manggul awi
nyiar-nyiar pimerangeun
jauh-jauh neang abdi
nyiar-nyiar pimelangeun

Aya listrik di masigit
caangna ka Pabrik Kina
Aya istri jangkung alit
hanjakal teu di calana

diputer-puter paseukna
ari pek beunang talina
diincer-incer lanceukna
ari pek meunang adina


itu gunung ieu gunung
gunungna gunung arjuna
itu pundung ieu pundung
pundungna bet duanana


aya oplet maju ngidul
kuring wawuh ka supirna
diajar teh ulah ngedul
bisi kaduhung ahirna


Majar maneh nganyam samak
neukteukkan bari motongan
majar maneh neang anak
ngadekeutan popotongan


kuma suling kuma suling
suling teh ngan silung wae

Kuma kuring kuma kuring
kuring teh ngan bingung wae


Manuk ciung na pisitan
buah nona aratah keneh
dicium kunu kumisan
si nona kalahka jebleh


Poe salasa tumpak kuda
kuda paninggalan walanda
urang mah urang sunda
atuh pake basa sunda


kangkung diasakan ku randa
ngeunah pisan rasana
angklung teh asli ti sunda


kuring nu bogana

aya pawang buhaya
pawangna ulin ka persia
kudu nyaah kana budaya
bisi dicolong ku malaysia


hayang ulin ka gunung gede
di gunung aya buhaya
urang sunda sing harade
sing nyaah kana budaya


ulin ka jalan juanda
sawaktos bulan puasa
mun ngaku urang sunda
tong poho kana basa

21.4.12

PUISI

Perempuan Cahaya di Taman Dzikir

Panas matari, hujan air mata rindu,
menyemai taman zikir, taman doaku
mawar-mawar yang Kau kirimkan padaku, Kekasih,
tumbuh merekah hiasi hamparan sajadah
yang terus memanjang pada sisa kala
 
Di taman zikir, taman hening yang mawar itu
kutemui ribuan perempuan cahaya
Rabi'ah, Syarafunnisa
menjelangMu tergesa
tapi rengkuhlah aku, Kekasih,
sahaya yang resah merindu
telah kutumpukkan awan-awan asa itu
dan kudekap pelangi mahabbah
aku fana yang memanjati langit ma'rifatMu

di taman zikir, taman doa, taman nafasku
di tengah perempuan-perempuan cahaya
aku menjaga dengan airmata
nyala masa yang tersisa
demi hasrat abadi itu

biarkan, Kekasih
kupenuhiku denganMu
berharap jadi mawarMu
jadi lautMu
tanpa kenal kata "sampai ajal"

sungguh,
telah Kau fanakan diriku, Kekasih
tapi tidak cintaku padaMu
sebab di taman zikir, taman doa
taman nafasku
cinta kita, Kekasih
adalah baqa

PUISI

KEPADAMU

ketika bahasa tak lagi percaya pada kata
apakah yang masih bisa kita ucap?
: cinta


ketika wajahmu tak lagi menampakkan
kening, mata, hidung dan mulut
apakah yang masih bisa kukecup?
: doa




PUISI

Allah Mengajarkan Cinta

Pernahkah hatimu merasakan kekuatan mencintai
Kamu tersenyum meski hatimu terluka karena yakin ia milikmu,
Kamu menangis kala bahagia bersama karena yakin ia cintamu
Cinta melukis bahagia, sedih, sakit hati, cemburu, berduka
Dan hatimu tetap diwarnai mencintai, itulah dalamnya cinta

Pernahkah cinta memerahkan hati membutakan mata
Kepekatannya menutup mata hatimu memabukkanmu sesaat di nirwana
Dan kau tak bisa beralih dipeluk merdunya nyanyian bahagia semu
Padahal sesungguhnya hanya kehampaan yang mengisi sisi gelap hatimu
Itulah cinta karena manusia yang dibutakan nafsunya

Cinta adalah pesan agung Allah pada umat manusia
DitulisNya ketika mencipta makhluk-makhlukNYA di atas Arsy
Cinta dengan ketulusan hati mengalahkan amarah
Menuju kepatuhan pengabdian kepada Allah dan Rasulnya
Dan saat pena cinta Allah mewarnai melukis hatimu,
satu jam bersama serasa satu menit saja

Ketika engkau memiliki cinta yang diajarkan Allah
Kekasih menjadi lentera hati menerangi jalan menuju Illahi
Membawa ketundukan tulus pengabdian kepada Allah dan RasulNya
Namun saat cinta di hatimu dikendalikan dorongan nafsu manusia
Alirannya memekatkan darahmu membutakan mata hati dari kebenaran

Saat kamu merasakan agungnya cinta yang diajarkan Allah
Kekasih menjadi pembuktian pengabdian cinta tulusmu
Memelukmu dalam ibadah menuju samudra kekal kehidupan tanpa batas
Menjadi media amaliyah dan ketundukan tulus pengabdian kepada Allah
Itulah cinta yang melukis hati mewarnai kebahagiaan hakiki

Agungnya kepatuhan cinta Allah bisa ditemukan dikehidupan alam semesta
Seperti thawafnya gugusan bintang, bulan, bumi dan matahari pada sumbunya
Tak sedetikpun bergeser dari porosnya, keharmonisan berujung pada keabadian
Keharmonisan pada keabadian melalui kekasih yang mencintai
Karena Allah adalah kekasih Zat yang abadi

Cintailah kekasihmu setulusnya maka Allah akan mencintaimu
Karena Allah mengajarkan cinta tulus dan agung
Cinta yang mengalahkan Amarah menebarkan keharmonisan
Seperti ikhlas dan tulusnya cinta Rasul mengabdi pada Illahi
Itulah cinta tertinggi menuju kebahagiaan hakiki



SEJARAH MESJID JAMI DARUSSALAM

               SEJARAH MESJID JAMI DARUSSALAM              
DESA KARANGSAMBUNG KECAMATAN KADIPATEN
 KABUPATEN MAJALENGKA
Desa Karangsambung adalah salah satu dari tujuh desa yang ada di Kecamatan Kadipaten, Di dalam desa Karangsambung terdapat sebuah mesjid yang pendiriannya mempunyai sejarah yang sangat panjang, tiada lain adalah Mesjid Jami Darussalam.
Sekitar Abad 14 Sunan Gunung Jati diperintahkan oleh Sultan Demak untuk menyebar luaskan Agama Islam di Pulau Jawa bagian barat sambil membereskan/mendamaikan warga masyarakat yang sedang berseteru, pada saat itu dikarenakan perebutan batas wilayah.
Sunan Gunung Jati dalam rangka melaksanakan tugasnya dibantu oleh para pembantunya yang disebut Ki Gedeng. Salah satu daerahnya adalah Desa Karangsambung, pada saat itu Desa Karangsambung terbagi atas :
1.
Karang Koletrak yang sekarang menjadi Blok Sabtu, warga masyarakatnya mempunyai keahlian dibidang perang.

2.
Karang Sinom yang sekarang menjadi Blok Ahad, warga masyarakatnya mempunyai keahlian dibidang berbicara.


3.
Karang Suwung yang sekarang menjadi Blok Jum’at, warga masyarakatnya mempunyai keahlian di bidang agama


4.
Karang Setra, yang sekarang menjadi Blok Senen sebelah Timur, warga masyarakatnya mempunyai keahlian dibidang usaha.


5.
Karang Pawijan yang sekarang Balai Desa, yaitu tempat pemerintahan.

Pada ke empat daerah tersebut pada saat itu keadaan warga masyarakatnya  kacau balau sering berseteru karena perebutan batas wilayah. Berkat usaha para pembantu Sunan Gunung Jati warga masyarakat yang berseteru tersebut bisa didamaikan, maka daerah-daerah tersebut disatukan menjadi Karangsambung yang mempunyai arti Karang artinya halaman sambung artinya disatukan, jadi Karangsambung berarti halaman yang disatukan.

Setelah warga masyarakat bersatu, maka para pembantu Sunan Gunung Jati membuat tempat ibadah yaitu membuat sebuah mesjid yang sekarang bernama Mesjid Jami Darussalam. Para pembatu Sunan gunung jati itu diantaranya bernama : Kigedeng Pancuh, Kigedeng Curug Landung, Kigedeng Magelung, Kigedeng Babadan, Kigedeng Sawit, Kigedeng Keked, Ki Gedeng Bango Dua dan Kigedeng Hanjatan.
Selain membuat sebuah mesjid para pembantu Sunan Gunung jkati juga membuat peralatan-peralatan diantaranya :
1.
Sebuah Kursi, kursi tersebut adalah dibuat oleh Ki Gedeng Sawit diperuntukan untuk duduknya Ki Gedeng Sawit pada saat memberikan ceramah keagamaan, sekitar sebelum tahun 1970 han kursi tersebut suka dipakai sumpah.

2.
Perabot Perang, diantaranya Tumbak, keris, pedang, meria m dan lain-lain.


3.
Perabot rumah tangga berupa Piring dan gelas yang dibuat dari bahan kramik


4.
Alat bermain yang dibuat dari tempulung kelapa

Mesjid Jami Dsarussalam telah melaksanakan tiga kali renopasi. Yatitu sekitar tahun 1975, 1982, 2003 dan sampai sekarang belum adalagi renopasi.

Kokohnya Kepribadian



Rasulullah bersabda yang artinya : Pena pencatat pahala dan dosa diangkat (tidak ditulis) dari 3 kelompok manusia: orang yang sedang tidur, orang yang pingsan sampai dia bangun, dan anak kecil hingga ia menjadi besar (Shahihul Jami').
Ilmu pengetahuan kedokteran kontemporer kini menegaskan bahwa sel-sel manusia yang di kulit, otot-otot, tulang, dan mata, semuanya mengalami perbaruan pada setiap 7 (tujuh) tahun sekali, kecuali sel pusat syaraf, sebab sel pusat syaraf selesai mengalami perkembangannya pada usia 7 tahun dimana 9/10 otaknya berkembang pada masa 1 - 7 tahun. Dan andai sel-sel otak dan syaraf otak berubah-ubah (berkembang ataupun mengalami perbaruan) maka akanberubah pula kerpibadiannya. Dan jika demikian halnya, maka seseorang akan mengalami banyak mengalami kejanggalan perilaku karena perubahan-perubahan itu setiap harinya. Dan ini merupakan kehebatan dan rahmat Allah terhadap makhluknya semenjak dahulu kala. Maka Allah tidak membebani taklif (perintah dan larangan agama) kepada orang yang belum mukallaf, yaitu orang yang belum sempurna perkembangan dirinya...
Maka, apabila seorang anak sudah menjadi besar akan kokohlah kepribadiannya dengan kokohnya sel-sel pusat syaraf, dimana sel-sel ini tidak mengalami penambahan dan pengurangan sedikitpun walaupun ia mengalami benturan atau sakit. Andai sel-sel pusat syaraf mengalami pengurangan atau penambahan setelah sempurnanya perkembangan, tentu anggota tubuh manusia tidak bisa bergerak sebagaimana mestinya.
Subhanallah (Maha Suci Allah) Yang demikian menjulang tinggi bukti kekuasaan-Nya.
Allah berfirman:
كل شيء هالك إلاّ وجهه، له الحكم وإليه ترجعون
Segala sesuatu pasti akan mengalami kehancuran, kecuali wajah Allah, Dia-lah pemilik hukum dan kepada-Nya kalian kelak akan dikembalikan.

Tidakkah, dengan berita ini manusia harus memberikan sujudnya dan syukurnya hanya kepada Allah ta'alaa?

Sumber: wa fii anfusikum afalaa tubshirun" Anas ibn Abdul Hamid Al-Qouz

PETUNJUK NABI PADA HARI JUM'AT

           Diharamkan mengkhususkan hari jum'at semata untuk berpuasa. "Hari jum'at adalah hari raya bagi kalian maka janganlah kalian menjadikan hari raya tersebut sebagai hari untuk berpuasa kecuali jika dibarengi dengan berpuasa sebelumnya atau sesudahnya."
           Makruh mengkhususkan malam jum'at dengan melakukan berbagai amal ibadah, berdasarkan sabda Rasulullah SAW
لاَ تَخْتَصُّوْا لَيْلَةَ الْجُمْعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنَ الَّيَاليِ,,,
Janganlah kalian mengkhususkan malam jum'at dari malam-malam hari lainnya dengan melaksanakan berbagai ibadah.
           Membaca surat  surat Al-Sajdah : ( الم. تَـنْزِيْل ) ُ  , serta surat Al-Insan  pada saat shalat fajar hari jum'at.
           Memperbanyak membaca shalawat kepada Nabi SAW pada hari jum'at.
           Membaca surat Al-Kahfi pada malam dan siang hari jum'at, dan barangsiapa yang membacanya maka sinar akan memancar antara dirinya sampai al-baitul atiq.
           Para ulama berbeda pendapat tentang hukum mandi untuk hari jum'at apakah wajib  atau sunnah , seyogyanya bagi seseorang untuk melaksanakan mandi untuk hari jum'at demi mendapat pahala keutamaan mandi hari jum'at tersebut dan keluar dari perbedaan pendapat ulama.
           Mengkhususkan memakai pakaian tertentu pada hari jum'at, dari Abdullah bin Salam bahwa dia mendengar Rasulullah SAW bersabda di atas mimbar pada hari jum'at
مَا عَلىَ أَحَدِكُمْ لَوْ اِشْتَرَى ثَوْبَيْنِ لِيَوْمِ الْجُمْعَةِ سِـوَى ثَوْبِ مِهْنَتِهِ
Apakah yang memberatkan salah seorang di antara kalian seandainya dia membeli dua helai pakaian untuk hari jum'at sehelai pakaian yang dipergunakan untuk pekerjaannya
            Disunnahkan untuk bersegera menuju masjid pada hari jum'at, dianjurkan untuk mandi, memakai wangian dan bersiwak. Dari Aus bin Aus Rasulullah bersabda Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda
 مَنْ غَسَّلَ يَوْمَ الْجُمْعَةِ وَاغْتَسَلَ ثُمَّ بَكَّرَ وَابْتَكَرَ وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ وَدَنَا مِنَ اْلإِمَامِ فَاسْتَمَعَ وَلَمْ يَلْغُ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ أَجْرُ صِيَامُهَا وَقِيَامُهَا
Barangsiapa yang bersuci dan mandi, kemudian bergegas dan mendengar khutbah dari awal, berjalan kaki tidak dengan berkendaraan, mendekat dengan imam, lalu mendengarkan khutbah dan tidak berbuat sia-sia, maka baginya bagi setiap langkah pahala satu tahun baik puasa dan shalatnya .
           Pada hari jum'at terdapat saat-saat dikabulkannya do'a, yaitu saat-saat terakhir setelah shalat asar, seperti yang dijelaskan dalam banyak hadits , dalam pendapat yang lain dikatakan di antara duduknya imam di atas mimbar saat berkhutbah jum'at sampai shalat selesai ditunaikan.
           Bersikap diam saat imam mulai berkhutbah, Nabi SAW bersabda

َإِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ أَنْصِتْ وَاْلإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْت
Jika engkau mengatakan kepada temanmu Diam! Pada saat imam sedang berkhutbah maka sungguh engkau telah berbuat sia-sia., Dan yang lebih utama bagi seseorang agar dia menahan berbicara setelah turunnya imam dari mimbar, sebelum didirikan shalat kecuali karena keperluan, seperti yang diterangkan dalam hadits riwayat Salman "Dan hendaklah seseorang diam sampai imam menyelesaikan shalat.
           Dianjurkan bagi seorang yang shalat jika terserang kantuk yang berlebihan setelah berada di masjid untuk berpindah dari tempat tersebut.
           Tidak melangkahi pundak orang lain.
           Tidak ada sebelum jum'at shalat sunnah dengan waktu tertentu, bilangan rekaat tertentu; sebab adanya suatu ibadah akan ada dengan perkataan atau perbuatan Nabi SAW dan beliau tidak pernah mengerjakan shalat sunnah apapun sebelum jum'at, adapun shalat setelah jum'at Ibnul Qoyyim menegaskan di dalam kitabnya Zadul Ma'ad 1440 Dan apabila beliau telah selesai mengerjakan shalat jum'at maka beliau memasuki rumahnya dan shalat sunnah ba'diyah dua rekaat, dan memerintahkan umatnya untuk melaksanakan empat rekaat shalat ba'diyah jum'at. Guru kami Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata Jika beliau melaksanakan shalat sunnah tersebut di masjid maka beliau mengerjakannya empat rekaat, dan jika menunaikannya di rumah maka mengerjakan dalam dua rekaat saja.
           Ibnul Qoyyim rahimhullah berkata tentang petunjuk Nabi SAW dan para shahabatnya saat khutbah Jum'at Apabila beliau berkhutbah pada hari jum'at, maka para shahabat mengarahkan wajahnya kepada beliau dan wajah beliau mengarah kepada mereka saat berkhutbah.
           Membaca surat Al-Jum'ah dan Al-Munafiqun saat shalat jum'at atau surat Al-A'la dan Al-Gasyiah, atau surat Al-Jum'ah dan Al-Gasyiah  Ibnul Qoyyim rahimhullah berkata :Dan tidak dianjurkan jika seseorang membaca sebagian surat dari surat-surat yang telah disebutkan di atas atau membaca salah satu pasangan surat tersebut pada salah satu rekaat, sebab perbuatan tersebut menyalahi sunnah .
           Dianjurkan untuk mengadakan tidur siang setelah jum'at, dan Nabi SAW menganjurkan umatnya untuk tidur siang dalam sebuah sabdanya
قِيْـلُواْ فَإِنَّ الشَّيْـطَانَ لاَ تَقِيْـلُ               
Tidur sianglah karena sesungguhnya setan tidak tidur siang   dan beliau menentukan waktunya, yaitu setelah shalat jum'at; seperti yang disebutkan dalam hadits Anas, ia berkata Kami bersegera berangkat menuju jum'at lalu tidur siang sesudah jum'at.
           Dibolehkan shalat pada pertengahan siang di hari jum'at, tidak seperti hari-hari lainnya, seperti yang disebutkan dalam berbagai hadits Kemudian beliau melaksanakan shalat sebanyak yang bolehkan baginya.
           Ancaman bagi mereka yang meninggalkan beberapa shalat jum'at adalah
"Hendaklah sautu kaum berhenti meninggalkan jum'at atau Allah akan mengunci hati mereka lalu mereka termasuk orang-orang yang lalai.
.
ADAB SEORANG KHATIB JUM'AT
           Berkhutbah di atas mimbar.
           Mengucapkan salam kepada para makmum sesaat setelah menaiki mimbar dan menghadapkan wajahnya kepada mereka.
           Duduk di atas mimbar setelah menaikinya sebelum memulai khutbah.
           Berkhutbah dengan cara berdiri, diriwayatkan oleh Ibnu Majah Abdullah ditanya apakah Nabi SAW berkhutbah dengan cara duduk atau berdiri. Beliau menjawab Tidakkah engkau membaca firman Allah Ta'ala:
 وَتَرَكُوْكَ قَائِمًا
 (Dan mereka meninggalkan kamu dalam keadaan berdiri).
           Berpegang pada tongkat atau sebuah panah.
           Mengangkat suara saat berkhutbah dan memuliakan khutbah.
           Termasuk petunjuk Nabi  SAW membaca surat ق saat berkhutbah. Diriwayatkan oleh binti Al-Harits bin Al-Nu'man radhiallahu anha, ia berkata:  Aku tidak menghafal surat   ق  (Qaaf)  kecuali dari mulut Rasulullah SAW yang dibacanya saat berhutbah pada setiap hari jum'at